Festival Budaya di Pasar Tradisional
Pasar tradisional merupakan institusi sosial yang memiliki peran
strategis di dalam proses pembangunan dalam berbangsa dan bernegara.
Sayangnya pasar-pasar tradisional yang juga merupakan pusat kebudayaan
kian tergerus keberadaannya di era globalisasi ini. Dan pada perayaan
100 Tahun Kebangkitan Nasional ini, apakah Pasar Tradisional juga tetap
menjadi pilihan –untuk berbelanja—kita di masa mendatang?
Suprapto Suryodarmo, Ketua Pelaksana Festival Pasar Kumandang Solo,
menyatakan perkembangan setiap wilayah di Indonesia baik desa kota
ataupun negara tidak akan lepas dari peran dan keberadaan pasar
tradisional. Artinya pasar tradisional merupakan cermin dari keberadaan
kehidupan sosial di dalam satu wilayah tertentu.
Selain itu pasar juga merupakan pusat kebudayaan, dimana segala macam
ekspresi perilaku dan nilai yang melekat dalam masyarakat
terekspresikan dan diproduksi serta dipasarkan didalamnya.
Pasar Tradisional sebagai Pusat Budaya yang menjadi tema Festival
Pasar Kumandang Solo 2008 digelar pada tanggal 18-20 Mei 2008. Festival
ini akan menyuguhkan beragam kegiatan seni- budaya dan kunjungan ke
pasar-pasar tradisional di kota Solo seperti Pasar Gede, Pasar Kembang,
Pasar Triwindu dan Pasar Legi. Festival yang sudah dimulai tahun 2005
ini dipusatkan di Pasar Kumandang dan Pasar Gede Solo.
Rangkaian festival terdiri dari Sesaji Kraton Surakarta, peragaan
busana di tengah pasar atau Fashion On The Pasar oleh anak-anak SMK
Marganingsih, Sarasehan & Pameran Profile Pasar Tradisional,
Eksibisi Budaya Multi Etnik Nusantara, ‘Dialog Interaktif Nilai-Nilai
Nasionalisme’ dengan tema: Strategi Menumbuhkan Ekonomi Pasar
Tradisional, Ketoprak Taruna Budaya ISI Surakarta, Pidato Kebudayaan
oleh Goenawan Mohammad dan Prof Dr.Waridi S.Kar. M.Hum, pertunjukan tari
dari Aneuk Nangroe Community, Pentas Tari Sahita : Srimpi Kesrimpet,
Pentas Kesenian Rakyat, Pameran dan Workshop Batik & topeng-tatah
sungging, dan lain-lain.
Festival Pasar Kumandang Solo 2008 mengajak masyarakat untuk melihat
kembali bagaimana kondisi pasar tradisional. Dan tentunya melihat secara
kritis kondisi pasar tradisional yang menjadi tumpuan harapan
masyarakat banyak. Dengan harapan, pasar tradisional dapat terus hidup
di tengah masyarakat.
Matinya Pasar Tradisional
Di dalam pasar tradisional kita dapat melihat ke-ika-an [kesatuan] dalam multikulturalisme, di dalam pasar tradisional kita melihat bahwa kesepakatan dibangun dengan tawar-menawar yang merupakan bangunan dasar demokrasi dalam arti membangun kesepakatan untuk mufakat.
Di dalam pasar tradisional kita dapat melihat ke-ika-an [kesatuan] dalam multikulturalisme, di dalam pasar tradisional kita melihat bahwa kesepakatan dibangun dengan tawar-menawar yang merupakan bangunan dasar demokrasi dalam arti membangun kesepakatan untuk mufakat.
Sayangnya, menurut Suprapto perkembangan terakhir pedagang di pasar
tradisional mengalami kemunduran tergencet dan termarjinalisasikan.
Menurutnya itu merupakan akibat dari kebijakan dan sistem ekonomi yang
tidak lagi berpihak dan berpijak pada kepentingan masyarakat banyak.
Pasar tradisional dikorbankan.
Kondisi tersebut menurut Suprapto,”akan memunculkan bentuk kesenjangan yang semakin nyata yang mampu menciptakan ruang konflik.”
Jika pasar tradisional mati maka yang terjadi, menurut Suprapto, akan
berdampak luas pada keberadaan jaringan ekonomi desa kota. Pada wilayah
pen-supply komoditas maupun produsen berikut penunjang kegiatan pasar
jasa maupun yang lain.
Jika pasar tradisional mati, kita akan merindukan proses
tawar-menawar dan teriakan-teriakan para pedagang yang menjajakan
dagangannya. Kita akan rindu bau tanah, bau keringat, dan hiruk-pikuk
khas pasar tradisional Indonesia. Kita kehilangan kebudayaan.
0 komentar:
Posting Komentar